okaaayy, here we are...
tarik nafass, keluarkan... hehehehe what's my point honestly by saying that..
umm.. honestly it's hard for me to write this thing.. It is reallyyyy haaaardd.. T_T
mulai darimana ya enaknya? hhhhhh.. FYI, I really sighing..
If I ask you, have you ever like/love someone?
Maybe most of you would say 'Of course I have.'.
But if I ask you, have you ever like/love someone you can't be with?
What is your answer?
Have you?
I wish this is never happen in your life guys.
Because that is happen in my life, in my big life, in my busy life.
Gimana bisa? gue juga engga ngerti kenapa bisa, yang jelas selama 4 tahun terakhir ini gue udah engga pernah lagi merasakan hal seperti ini. Hal yang membuat gue nyaman ketika dekat dengannya, hal yang membuat gue selalu pengin tahu apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, apa yang dia enggak suka, apa yang dia suka, apa yang.. oh God I must be crazy.. Ya gue merasakan hal itu lagi selama 4 tahun itu enggak terjadi sama gue. Tapi tapi tapi gue merasakannya sama orang yang salah, sama orang yang seharusnya enggak boleh gue suka, enggak boleh gue damba, enggak boleh gue rindu.. (tuh kan bahasanya udah mulai kayak anak yang lahir di zaman Roma Irama).
Awalnya gue sama dia itu cuma teman, yaaah teman biasa lah, kita juga baru kenal ,belum ada satu tahun malah. Kita itu ketemu tiap hari. Ya, dia bekerja dan kuliah ditempat yang sama seperti gue (yeay now my occupation are student and teacher :) ). Kita itu sering melakukan aktivitas bareng bareng, bukan cuma berduan aja sih, sama teman yang lainnya juga. Nah, entah kenapa teman teman gue itu sering kepo bikin gosip palsu gitu tentang gue sama dia. Tenang, bukan gosip kayak di infotainment kok, cuma biasalah digoda - godain gitu. Kenapa bisa sampe digosipin, mmm itu semua karena gue sering pulang bareng dia. Semenjak itu bukannya marah kita berdua malah bikin lelucon tentang gosip itu. Ya gue mah biasa aja, toh gue tau kok kalo itu cuma bercandaan. Entah kenapa si cowok juga mulai enjoy dengan gosip itu dan malah bikin gosip itu semakin menjadi dengan tingkahnya yang gombal2in gue. Seriously, gue mikirnya itu cuma bercandaan doang. Sampe suatu saat dia bilang "What if it wasn't a joke? What if it was serious?" deng deng deng deng...
Waktu itu gue bingung mau jawab apa, gue diem lama banget waktu itu. Gue bingung karena ini masih lelucon yang dia lakuin apa bukan, sejujurnya gue masih ragu antara mau percaya atau enggak. Akhirnya gue fixed menganggapnya sebagai lelucon juga dan gue bilang ke dia "mana mungkin kalo yang lo lakuin tadi serius, pasti bercanda lah.." Mmm.. sejujurnya malu sih tulisin semua conversation gue sama dia di sini, jadi di skip aja yak.. Pokoknya intinya dia seperti mengungkapkan perasaannya gitu ke gue. Keesokannya setelah dia bilang gitu, terjadi perang dingin antara gue sama dia, awalnya gue biasa aja, tapi dia-nya yang menarik diri dari gue. Ada kali dia ngediemin gue selama 3-4 hari, marah2 di twitter-nya, marah2 sama semua orang. Pokoknya bukan seperti sosok yang gue kenal. Tapi perang dingin itu perlahan2 cair gitu , kita udah balik ke normal lagi seperti sedia kala, seperti semuanya enggak terjadi apa apa dan disinilah gue mulai melihat kearah dia secara enggak sadar.
Okay, back to our topic, if any of you ask me why I can't be with him, I would simply answer you, because there's a line that I cannot cross to be with him. I already know that line. Bahkan gue udah membuat pembatas dihati gue supaya enggak melangkah terlalu jauh, supaya enggak bermain api. Tapi entah kenapa hati ini enggak bisa dikontrol. Walaupun status gue dan dia masih sebagai teman, tapi perasaan yang gue miliki bukan sebagai teman. Gue enggak pernah bilang ke siapapun tentang perasaan gue ini kecuali ke satu orang teman gue yang sama sekali enggak kenal sama dia. Enggak berani cerita ke yang lainnya karena gue takut kalo seandainya ada yang tau malah mempersulit gue untuk terus berpura-pura. Sejujurnya ketemu dia tiap hari itu malah makin susah buat nyangkal perasaan ini. I hate to pretend but I should do this for the better us. But, I actually share in here, I wish none of you read this and realize it.
Sampe sekarang gue enggak tau gimana perasaan dia sama gue, apakah dia masih suka sama gue, gue enggak pernah menanyakannya, sejujurnya enggak pernah berani menanyakannya, yang gue tau, gue masih melihat kearahnya dan status kita masih sebagai teman.
Buat yang bertanya tanya garis seperti apa yang bisa jadi penghalang segitu besarnya, tau lagunya Marcell yang Peri Cintaku kan guys? Nah seperti itulah kiranya rumitnya kisah ini..
Thank you for read this post. I really wish none of my and his friend realize it. Fiuhhhh~
tarik nafass, keluarkan... hehehehe what's my point honestly by saying that..
umm.. honestly it's hard for me to write this thing.. It is reallyyyy haaaardd.. T_T
mulai darimana ya enaknya? hhhhhh.. FYI, I really sighing..
If I ask you, have you ever like/love someone?
Maybe most of you would say 'Of course I have.'.
But if I ask you, have you ever like/love someone you can't be with?
What is your answer?
Have you?
I wish this is never happen in your life guys.
Because that is happen in my life, in my big life, in my busy life.
Gimana bisa? gue juga engga ngerti kenapa bisa, yang jelas selama 4 tahun terakhir ini gue udah engga pernah lagi merasakan hal seperti ini. Hal yang membuat gue nyaman ketika dekat dengannya, hal yang membuat gue selalu pengin tahu apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, apa yang dia enggak suka, apa yang dia suka, apa yang.. oh God I must be crazy.. Ya gue merasakan hal itu lagi selama 4 tahun itu enggak terjadi sama gue. Tapi tapi tapi gue merasakannya sama orang yang salah, sama orang yang seharusnya enggak boleh gue suka, enggak boleh gue damba, enggak boleh gue rindu.. (tuh kan bahasanya udah mulai kayak anak yang lahir di zaman Roma Irama).
Awalnya gue sama dia itu cuma teman, yaaah teman biasa lah, kita juga baru kenal ,belum ada satu tahun malah. Kita itu ketemu tiap hari. Ya, dia bekerja dan kuliah ditempat yang sama seperti gue (yeay now my occupation are student and teacher :) ). Kita itu sering melakukan aktivitas bareng bareng, bukan cuma berduan aja sih, sama teman yang lainnya juga. Nah, entah kenapa teman teman gue itu sering kepo bikin gosip palsu gitu tentang gue sama dia. Tenang, bukan gosip kayak di infotainment kok, cuma biasalah digoda - godain gitu. Kenapa bisa sampe digosipin, mmm itu semua karena gue sering pulang bareng dia. Semenjak itu bukannya marah kita berdua malah bikin lelucon tentang gosip itu. Ya gue mah biasa aja, toh gue tau kok kalo itu cuma bercandaan. Entah kenapa si cowok juga mulai enjoy dengan gosip itu dan malah bikin gosip itu semakin menjadi dengan tingkahnya yang gombal2in gue. Seriously, gue mikirnya itu cuma bercandaan doang. Sampe suatu saat dia bilang "What if it wasn't a joke? What if it was serious?" deng deng deng deng...
Waktu itu gue bingung mau jawab apa, gue diem lama banget waktu itu. Gue bingung karena ini masih lelucon yang dia lakuin apa bukan, sejujurnya gue masih ragu antara mau percaya atau enggak. Akhirnya gue fixed menganggapnya sebagai lelucon juga dan gue bilang ke dia "mana mungkin kalo yang lo lakuin tadi serius, pasti bercanda lah.." Mmm.. sejujurnya malu sih tulisin semua conversation gue sama dia di sini, jadi di skip aja yak.. Pokoknya intinya dia seperti mengungkapkan perasaannya gitu ke gue. Keesokannya setelah dia bilang gitu, terjadi perang dingin antara gue sama dia, awalnya gue biasa aja, tapi dia-nya yang menarik diri dari gue. Ada kali dia ngediemin gue selama 3-4 hari, marah2 di twitter-nya, marah2 sama semua orang. Pokoknya bukan seperti sosok yang gue kenal. Tapi perang dingin itu perlahan2 cair gitu , kita udah balik ke normal lagi seperti sedia kala, seperti semuanya enggak terjadi apa apa dan disinilah gue mulai melihat kearah dia secara enggak sadar.
Okay, back to our topic, if any of you ask me why I can't be with him, I would simply answer you, because there's a line that I cannot cross to be with him. I already know that line. Bahkan gue udah membuat pembatas dihati gue supaya enggak melangkah terlalu jauh, supaya enggak bermain api. Tapi entah kenapa hati ini enggak bisa dikontrol. Walaupun status gue dan dia masih sebagai teman, tapi perasaan yang gue miliki bukan sebagai teman. Gue enggak pernah bilang ke siapapun tentang perasaan gue ini kecuali ke satu orang teman gue yang sama sekali enggak kenal sama dia. Enggak berani cerita ke yang lainnya karena gue takut kalo seandainya ada yang tau malah mempersulit gue untuk terus berpura-pura. Sejujurnya ketemu dia tiap hari itu malah makin susah buat nyangkal perasaan ini. I hate to pretend but I should do this for the better us. But, I actually share in here, I wish none of you read this and realize it.
Sampe sekarang gue enggak tau gimana perasaan dia sama gue, apakah dia masih suka sama gue, gue enggak pernah menanyakannya, sejujurnya enggak pernah berani menanyakannya, yang gue tau, gue masih melihat kearahnya dan status kita masih sebagai teman.
Buat yang bertanya tanya garis seperti apa yang bisa jadi penghalang segitu besarnya, tau lagunya Marcell yang Peri Cintaku kan guys? Nah seperti itulah kiranya rumitnya kisah ini..
Thank you for read this post. I really wish none of my and his friend realize it. Fiuhhhh~
No comments:
Post a Comment